Marketing Interaktif Brand Moderyan, 25 January 2010
Setiap pelaku mode punya cara tersendiri dalam menghadapi krisis. Beberapa berpaling pada pengurangan harga, sementara yang lain mengandalkan penjualan secara online. Seperti yang dilakukan Burberry. Di saat rumah mode lain sibuk mempertahankan angka penjualan dengan penawaran khusus maupun sale akhir tahun, Burberry justru melakukan berinvestasi dengan merilis website e-commerce baru, www.artofthetrench.com, yang bukan hanya menawarkan produk jualan utama Burberry, melainkan juga produk street level, yakni gaya trench ala Burberry yang lebih terjangkau. Ide brilian Burberry ini langsung ditangkap para fashion blogger. Scott Schuman, pemilik fashion blog Sartorialist, langsung membahasnya sekaligus memberi dua acungan jempol, sehingga kelanjutannya bisa ditebak, Burberry mengantongi angka penjualan besar, bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sale dan diskon yang ditawarkan pelaku mode lain.
”Kami merilis website tersebut pada bulan November dan hingga sekarang, konsumen masih saja antusias,” ujar Sarah Manley, Senior Vice President Marketing & Communication Burberry. ”Data yang ditunjukkan website kami memperlihatkan total pengunjung theartoftrench.com hingga hari ini mencapai 3.7 juta,” sambungnya. Apa yang dilakukan Burberry, menurut para pengamat mode adalah marketing interaktif, di mana konsumen secara aktif melakukan promosi dan menyebarkannya pada konsumen lain. ”Dengan begitu, promosi berlangsung dalam tanda panah bersilangan dan hasilnya jauh lebih bagus dibandingkan kampanye iklan atau sale dari brand itu sendiri,” ujar Pauline Weston-Thomas, pengasuh situs mode www.fashion-era.com. Lebih lanjut Pauline mengatakan keuntungan dari marketing interaktif, konsumen tidak merasa dipaksa untuk membeli, ”Karena informasi itu datang dari teman, keluarga, atau orang yang mereka kagumi dan itu menambah kenyamanan mereka dalam berbelanja,” sambungnya. Menyusul kesuksesan Burberry, baru-baru ini Alexander Mc-Queen pun merilis website e-commerce yang disebutnya sebagai flagship store online. Lebih jauh dari Burberry, di website tersebut, McQueen bahkan menayangkan pertunjukkan runway-nya di London Fashion Week menggunakan link video dari YouTube, yang menghasilkan jutaan orang menyaksikan koleksi inovatif Mc-Queen dan meningkatkan penjualannya secara online. Fenomena marketing interaktif ini pun dipandang positif oleh pengamat mode Prancis Lucian James yang memiliki firma konsultan Angela Inc. ”Pelaku mode harus bisa menyesuaikan diri dengan zaman. Saat ini, dimana internet berkuasa, promosi dan penjualan secara online adalah cara tercepat untuk menjual, terlebih dengan konsumen yang berpartisipasi aktif melalui fashion blog,” paparnya.
Sayangnya, selain Burberry dan McQueen, rumah mode lainnya terbilang lamban dalam merespons strategi baru berpromosi ini. Kebanyakan rumah mode tidak begitu peduli pada tampilan ataupun kemudahan akses dari situs resmi mereka, bahkan update informasi tidak dilakukan secara berkala yang membuat konsumen malas menyambangi website mereka. Burberry bukan hanya memiliki tampilan website menarik dan akses yang mudah, rumah mode asal Inggris itu juga merangkul situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang mengirimkan informasi secara cepat kepada konsumen. Hal yang sama juga dilakukan Diane von Furstenberg dengan Facebook dan Alexander McQueen dengan Twitter. Di sisi lain, Prada dan Balenciaga, kendati tidak menggunakan Facebook ataupun Twitter, memberi konsumen kemudahan mengakses website mereka dengan terus meningkatkan teknologi digital. Prada menghadirkan ”museum” secara online di mana konsumen bisa melihat koleksi vintage-nya sementara Balenciaga kendati tidak begitu digitally advanced memberi konsumen informasi terbaru mengenai promosi yang dilakukan serta video runway show.
”Informasi yang ter-update secara berkala sangat penting bagi kami karena dengan begitu kami bisa langsung menginformasikannya kepada pembaca, di mana pun mereka berada,” ujar Schumann, yang blognya dikunjungi ribuan orang setiap harinya, begitu juga dengan account Twitternya yang memiliki puluhan ribu follower dari seluruh dunia. Christopher Bailey, direktur kreatif Burberry, tampaknya memang memahami kekuatan internet dan menjadikan internet sebagai sarana promosi utama bagi Burberry. Baru-baru ini, Bailey mengejutkan para konsumennya dengan menawarkan fitting secara online melalui skype serta menyebarkan look book digital untuk media.
”Saya mengerti keterbatasan waktu yang mereka (konsumen) punya dan karena itu internet sangat membantu,” jelas Bailey. Pendapat Bailey disetujui penuh oleh Manley, yang mengatakan saat ini Burberry berjalan menuju arah dengan kecepatan yang berbeda, terutama dengan media digital, termasuk didalamnya internet dan marketing interaktif memegang 40 persen dari bujet marketing yang harus dikeluarkan Burberry.
”Dengan resesi dan penurunan penjualan yang dialami hampir seluruh brand dan rumah mode, kita harus bisa berpikir untuk menyajikan sesuatu yang baru bagi konsumen dan jika internet menjadi medianya, maka kita pun harus bergerak cepat untuk memenuhi permintaan karena tidak seperti konsumen lain, mereka yang bergerak di pasar online haus akan informasi. Tugas kitalah untuk memberi mereka informasi yang mereka inginkan sekaligus menarik mereka ke arah yang kita inginkan,” pungkas McQueen.
Hints : 148 |